Tuesday, 28 April 2015

Apa Perbedaan Antara Arasy Tuhan dan Kursy-Nya



Apa Perbedaan Antara Arasy Tuhan dan Kursy-Nya
Apa perbedaan antara Kursy dengan Arasy?


Alhamdulillah.
Kursy adalah tempat kedua kaki Ar-Rahman Azza wa Jalla menurut pendapat yang paling shahih di antara berbagai pendapat. Sedangkan Arasy lebih besar dari Kursy. Arasy adalah makhluk yang paling besar, di atasnya Tuhan kita bersemayam sesuai dengan keagungan-Nya. Arasy memiliki kaki yang ditopang oleh para penopang dari kalangan malaikat yang besar penciptaannya.
Keliru orang yang menjadikan keduanya (Arasy dan Kursy) sebagai sesuatu yang satu. Berikut ini dalil-dalil dari apa yang telah disebutkan berikut pendapat para ulama.
Dari Ibnu Masud radhiallahu anhu dia berkata,
بين السماء الدنيا والتي تليها خمسمائة عام وبين كل سماء خمسمائة عام ، وبين السماء السابعة والكرسي خمسمائة عام ، وبين الكرسي والماء  خمسمائة عام ، والعرش فوق الماء ، والله فوق العرش لا يخفى عليه شيء من أعمالكم (رواه ابن خزيمة في " التوحيد " )
"Antara langit dunia dengan langit berikutnya berjarak lima ratus tahun dan jarak antara masing-masing langit berjarak lima ratus tahun. Antara langit ketujuh dengan Kursy berjarak lima ratus tahun. Sedangkan jarak antara Kursy dengan air berjarak lima ratus tahun. Arasy berada di atas air, sedangkan Allah berada di atas Arasy. Tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya amal-amal kalian." (HR. Ibnu Khuzaimah dalam At-Tauhid, hal. 105, Baihaqi dalam 'Al-Asma wa Ash-Shifat, hal. 401. Riwayat ini dishahihkan oleh Ibnu Qayim dalam 'Ijtima Juyusy Islamiyah', hal. 100 dan Az-Zahaby dalam 'Al-Uluw', hal. 64)
Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, "Hadits ini mauquf, hanya sampai kepada Ibnu Masud. Akan tetapi ini termasuk perkara yang tidak mungkin disimpulkan oleh akal, maka riwayat ini dihukumi sebagai marfu (sampai dan bersumber dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam), karena Ibnu Masud tidak dikenal suka mengambil riwayat Israiliyat."
(Al-Qaulul Mufid Syarh Kitab Tauhid, 3/379)
Imam Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah berkata dalam beberapa pelajaran dari hadits ini;
"….Kesembilan: Kursi lebih besar dibandingkan langit.
Kesepuluh: Arasy lebih besar dari Kursy
Kesebelas: Arasy bukan Kursy dan Air."
(Syarhu Kitab Tauhid, hal. 667-668)
Arasy Allah merupakan makhlu Allah yang paling besar dan luas.
Allah Ta'ala berfirman,
فتعالى الله الملك الحق لا إله إلا هو رب العرش العظيم (سورة المؤمنون:  116)
"Maka Maha Tinggi Allah, raja yang sebenarnya; tidak ada Tuhan selain Dia, Tuhan (yang mempunyai) 'Arsy yang mulia." (QS. Al-Mukminun: 116)
Dia juga berfirman,
وهو رب العرش العظيم (سورة التوبة: 129)
"Dan Dia adalah Tuhan yang memiliki 'Arsy yang agung". (QS. At-Taubah: 119)
ذو العرش المجيد (سورة البروج: 15)
"Yang mempunyai 'Arsy, lagi Maha mulia." (QS. Al-Buruj: 15)
Ibnu Katsir rahimahullah berkata,
"{ وهو رب العرش العظيم }
"Dan Dia adalah Tuhan yang memiliki 'Arsy yang agung". (QS. At-Taubah: 119)
Maksudnya adalah bahwa Dia adalah pemilik segala sesuatu yang Penciptanya. Karena Dia pemilik Arasy yang agung yang menungi seluruh makhluk. Seluruh makhluk di langit dan dibumi serta apa yang terdapat di dalamnya dan di antara keduanya berada di bawah Arasy dan berada di bawah kekuasaan Allah Ta'ala. Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, dan kekuasaan-Nya terlaksana terhadap segala sesuatu, Dia adalah pelindung atas segala sesuatu."
(Tafsir Ibnu Katsir, 2/405)
Beliau rahimahullah juga berkata,
ذو العرش
"Yang mempunyai 'Arsy." (QS. Al-Buruj: 15)
"Maksudnya adalah pemilik Arasy yang agung di atas seluruh makhluk. Sedangkan 'المجيد' (mulia), padanya terdapat dua qira'at (cara membaca); Dengan rafa (المجيدُ)berarti dia adalah sifat bagi Allah Azza wa Jalla. Dengan jar (المجيدِ) berarti dia adalah sifat bagi Arasy. Kedua makna ini benar."
(Tafsir Ibnu Katsir, 4/474)
Arti 'المجيد' adalah yang luas dan agung kedudukannya.
Dari Abu Said radhiallahu anhu, dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam dia berkata, "Manusia pada hari kiamat akan dibinasakan. Dan aku adalah orang yang pertama kali bangun. Aku dapatkan Musa sedang berpegangan pada salah satu tiang Arasy. Aku tidak tahu, apakah dia bangun sebelum aku atau dia dibalas karena pingsan yang dia alami di bukit Tursina." (HR. Bukhari, no. 3217)
Arasy memiliki para penopang yang membawanya.
Allah Ta'ala berfirman,
الذين يحملون العرش ومن حوله يسبحون بحمد ربهم ويستغفرون للذين آمنوا ربنا وسعت كل شيء رحمة وعلماً فاغفر للذين تابوا واتبعوا سبيلك وقهم عذاب الجحيم (سورة غافر: 7)
"(Malaikat-malaikat) yang memikul 'Arsy dan Malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): "Ya Tuhan Kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, Maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala." (QS. Ghafir: 7)
Mereka adalah makhluk yang besar.
Dari Jabir bin Abdullah dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda,
" أُذِن لي أن أحدِّث عن ملَك من ملائكة الله من حملة العرش ، إنَّ ما بين شحمة أذنه إلى عاتقه مسيرة سبعمائة عام " (رواه أبو داود، رقم 4727 )
"Aku telah diizinkan untuk menyampaikan tentang para malaikat Allah pembawa Arasy. Sesungguhnya antara daun telinga dan lehernya berjarak tujuh ratus tahun." (HR. Abu Daud, no. 4727)
Hadits ini dinyatakan oleh Al-Hafiz Ibnu Hajar, sanadnya berdasarkan syarat yang shahih (Fathul Bari, 8/665)
Arasy di atas Kursy, bahkan di atas seluruh makhluk.
Ibnu Qayim rahimahullah berkata,
"Karena itu, ketika langit meliputi bumi, dia berada di atasnya. Ketika Kursy meliputi langit, maka dia berada di atasnya. Ketika Arasy meliputi Kursy, maka dia berada di atasnya."
(Ash-Shawaiqul Mursalah, 4/1308)

7- Arasy bukanlah kerajaan, bukan pula Kursy
Ibnu Abu Al-Iz Al-Hanafi rahimahullah, berkata, "Adapun orang yang merubah kalam Allah dan menjadikan Arasy sebagai bentuk kerajaan, bagaimana pandangannya terhadap firman Allah Ta'ala,
ويحمل عرش ربك فوقهم يومئذ ثمانية (سورة الحاقة: 17)
"Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. dan pada hari itu delapan orang Malaikat menjunjung 'Arsy Tuhanmu di atas (kepala) mereka." (QS. Al-Haaqah: 17)
Juga firman-Nya
وكان عرشه على الماء (سورة هود: 7)
"Dan adalah singgasana-Nya (sebelum itu) di atas air." (QS. Huud: 7)
Apakah dia akan berkata, "Ada delapan malaikat yang membawa kerajaan-Nya." Dan "Kerajaan-Nya berada di atas air." Dan "Nabi Musa berpegangan di salah satu kaki kerajaan." Apakah ada orang berakal mengatakan demikian dan dia sadar apa yang dia katakan?
Adapun terhadap Kursy, Allah Ta'ala berfirman,
وسع كرسيه السموات والأرض (سورة البقرة: 255)
"Kursi Allah meliputi langit dan bumi. dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha besar." (QS. Al-Baqarah: 255)
Ada yang mengatkaan bahwa Kursy adalah Arasy. Tapi yang benar adalah bahwa dia bukan Arasy. Hal itu dikutip dari Ibnu Abbas radhiallahu anhum dan selainnya.
Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dalam Kitab "Sifatul Arsy" dan Al-Hakim dalam Kitab, "Al-Mustadrak" dia berkata, "Riwayat ini berdasarkan syarat dua orang Syaikh (Bukhari dan Muslim) namun keduanya tidak meriwayatkannya."
Dari Said bin Jubair, dari Ibnu Abbas dalam firman Allah Ta'ala,
وسع كرسيه السموات والأرض
"Kursi Allah meliputi langit dan bumi."
Dia berkata, "Kursy adalah tempat dua kaki, sedangkan Arasy tidak ada yang dapat memperkirakan ukurannya kecuali Allah Ta'ala."
Ada yang mengatakan bahwa hadits ini diriwayatkan secara marfu' (periwayatannya sampai kepada Nabi). Yang benar adalah: Bahwa dia mauquf (periwayatannya sampai pada shahabat) Ibnu Abbas.
Abu Dzar radhiallahu anhu berkata, "Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, 'Tidaklah Kursy di banding Arasy kecuali bagaikan cincin yang dilempar di atas padang di muka bumi."
Kursy seperti dikatakan oleh lebih dari seorang salaf di hadapan Arasy bagaikan tangga kepadanya."
(Syarah Aqidah Thahawiyah, hal. 312-313)
Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, "Ada yang berkata bahwa Arasy adalah Kursy, berdasarkan hadits, "Sesungguhnya Allah meletakkan Kursy-Nya pada hari kiamat." Mereka mengira bahwa Kursy adalah Arasy.
Sebagian lainnya juga ada yang mengira bahwa Kursy adalah ilmu. Mereka berkata terkait dengan firman Allah Ta'ala,
{ وسع كرسيه السموات والأرض }
Maksud 'كرسي' pada ayat tersebut adalah: Ilmu.
Yang benar, bahwa Kursy adalah tempat kedua kaki, sedangkan Arasy, di atasnya Allah Ta'ala bersemayam.
Sedangkan ilmu merupakan sifat bagi yang berilmu. Dapat mengetahui apa yang diketahuinya"
Wallahua'lam.
Al-Qaulul Mufid Syarah Kitab Tauhid (3/393-394)
http://islamqa.info/id/9566

Apa Arti Allah Bersemayam di Atas Arsy?



Apa Arti Allah Bersemayam di Atas Arsy? 

Assalamualaikum Wr Wb,
Semoga Allah melimpahkan kesehatan dan kemudahan untuk Pak Ustad dan team di eramuslim
Ana mo nanya masalah aqidah yaitu Allah bersemayam di Arsy, karena ada beberapa pendapat yang saling berbeda.
Mungkin Pak Ustadz bisa memberikan penjelsan lengkap dengan hadits yang mendukungnya.
Jazakallah khairan katsira
Abu Ihsan

Jawaban
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Salah satu kendala dalam memahami masalah ini adalah masalah bahasa. Kata-kata bersemayam itu apa artinya? Apa benar kata bersemayam itu terjemahan lurus dari kata istiwa’?
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata ‘semayam’ punya beberapa arti. Di antaranya duduk, berkediaman dan tersimpan. Sekarang coba kita terapkan semua arti kata semayam itu kepada Dzat Allah SWT. Apakah Allah SWT duduk? Apakah Allah SWT berkediaman? Dan Apakah Allah SWT tersimpan di suatu tempat tertentu?
Istiwa’ dalam Al-Quran
Mari kita kembalikan saja dulu kepada informasi awal, di mana Allah SWT menyebutkan kata istiwa’ di dalam Al-Quran. Di dalam Al-Quran beberapa kali disebutkan Allah beristiwa’, antara lain:
هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُم مَّا فِي الأَرْضِ جَمِيعاً ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاء فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak menuju langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-Baqarah: 29)
Al-Quran terbitan Departemen Agama RI menuliskan terjemahan dari kata istawa adalah berkehendak. Nah, anda mungkin akan semakin bingung, apa yang dimaksud dengan Allah berkehendak menuju langit?
Terjemahan istawa menjadi bersemayam bisa kita dapati di ayat lainya, misalnya:
Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy . (QS. Al-A’raf: 54)
Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy untuk mengatur segala urusan. (QS. Yunus: 3)
Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan (QS. Ar-Ra’d: 2)
Apakah Arti Istiwa’?
Mari kita buka kamus bahasa Arab. Jangan pakai kamus Munjid, karena kamus itu bukan kamus standar, lagian kamus itu buatan orientalis kafir yang wajahnya tidak pernah terkena air wudhu’. Kalau wudhu’ saja tidak, apalagi shalat. Bagaimana mungkin seorang muslim memakai kamus buatan orang yang tidak pernah shalat?
Setidaknya sebagai muslim, kamus bahasa Arab yang kita pakai adalah kamus Al-Mu’jamul Washith, atau boleh juga kamus Lisanul Arab.
Di dalam kamus Al-Mu’jamul WAshith halaman 466, kata istawa bermakna istaqrra wa tsabata. Istaqarra artinya menetap dan tsabata artinya menetap.
Sedangkan kata istawa ‘ala artinya adalah ‘alaa wa sha’ada, artinya tinggi dan naik. Kalau istawa fulan artinya orang yang telah matang kepemudaannya. Kalau istawa at-tha’amu artinya makanan itu telah matang.
Makna Istiwa’ Menurut Para Ulama
Kalau kita buka kitab tafsir, katakanlah Tafsir Al-Jami’ li Ahkamil Quran karya Al-Qurthubi, pada jilid 1 halaman 381, di sana disebutkan tentang masalah yang anda tanyakan. Al-Qurthubi menjelaskan bahwa pengertian kata istiwa pada ayat 29 dari surat Al-Baqarah itu memang musykilah tersendiri. Setidaknya, menurut beliau, orang-orang terpecah menjadi tiga kelompok pendapat.
1. Pendapat Pertama: Jumhur Ulama
Jumhur Ulama berpendapat bahwa kalau kita menemukan ayat-ayat seperti ini, misalnya tentang bersemayamnya Allah SWT, maka sikap yang paling tepat bagi kita adalah membacanya, lalu mengimaninya, tetapi tidak menafsirkannya.
Salah satu yang mewakili sikap ini adalah Al-Imam Malik rahimahullah. Ketika ada orang datang kepadanya menanyakan hal-hal seperti ini, beliau menjawab tegas, “Istiwa’ itu bukan hal yang majhul (tidak dikenal), namun teknisnya (al-kaifu) tidak bisa dipikirkan secara akal (ghairu ma’qul), sedangkan mengimaninya wajib, dan bertanya tentang itu adalah bid’ah.
2. Pendapat Kedua: Musyabbihin
Sebagian kalangan yang kita sebut musyabbihin bersikap agak lain. Dalam pandangan mereka, kalau ada ayat seperti ini, kita harus membacanya, lalu menafsirkannya sesuai dengan kemungkinan bahasa.
3. Pendapat Ketiga: Ta’wil
Sebagian yang lain lagi mengatakan bahwa ayat seperti ini kita baca namun kita ta’wilkan. Serta kita ganti kemungkinannya kepada bentuk dzhahirnya.
Pendapat Pilihan
Dibandingkan dengan pendapat kedua dan ketiga, kita lebih tepat untuk mengambil pendapat pertama. Selain nyaris seluruh ulama berada pada pendapat pertama, memang pendapat ini adalah pendapat yang paling tengah-tengah.
Kita tidak menyamakan Allah dengan makhluk, tetapi juga tidak menolak keterangan dari Allah SWT sendiri.
Kalau kita menafsirkan kata istiwa’ dengan duduk sebagaimana duduknya kita manunisa, maka jelas sekali kita telah melakukan tasybih, yaitu menyamakan atau menyerupakan Allah SWT dengan makhluk. Dan tentu hal itu haram hukumnya. Sebab Allah SWT sendiri telah menegaskan bahwa Diri-Nya tidak sama dengan makhluk ciptaan-Nya.
Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat. (QS. Asy-Syura: 11)
Dan tidak ada satu pun yang sebanding dengan-Nya (QS. Al-Ikhlash: 4)
Namun kita tetap tidak menolak bahwa Allah SWT melakukan istiwa’ (duduk, bersemayam), karena memang Allah SWT tegas menyebutkannya di dalam ayat Quran. Bahkan kami malah berpendapat bahwa sebaiknya kita pun tidak perlu menterjemahkan ke dalam bahasa lain. Kita sebut saja Allah melakukan istiwa’, sesuai dengan bahasa aslinya yaitu bahasa Arab.
Agar jangan lagi terjadi noise atau kesalahan dalam menterjemahkan. Jangan kita bilang bersemayam, duduk, atau terjemahan lain. Sebab dari terjemahan itu seringkali timbul salah pengertian dan salah paham yang berat.
Sebagaimana kita akan jauh lebih bijak kalau menyebut istilah shalat ketimbang sembahyang atau praying, istilah shaum ketimbang puasa atau fasting, isitlah haji ketimbang pilgrimate. Lebih aman dan lebih selamat dari kesalahan interpretasi.
Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc
http://idrusali85.wordpress.com/2008/07/19/apa-arti-allah-bersemayam-di-atas-arsy/

AL-MAQAM AL-MAHMUD ADALAH SYAFAAT



AL-MAQAM AL-MAHMUD ADALAH SYAFAAT BUKAN TEMPAT DUDUK NABI SALLALLAHU’ALAIHI WA SALLAM DI ATAS ARSY
Sejauh mana kebenaran tafsir Imam Mujahid dalam firman Ta’ala, "Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji." (QS. Al-Isra: 79). Yaitu Allah Ta’ala mendudukkan Muhammad sallallahu’alaihi wa sallam bersamaNya di Kursi-Nya. Atau bahwa Muhammad Rasulullah didudukkan Tuhan bersama-Nya di Arsy?


Alhamdulillah
Masalah duduknya Nabi sallallahu’alaihi wa salalm di atas Arsy, sejak dahulu hingga sekarang masih menjadi bahan perdebatan. Seyogyanya diperhatikan sebelum membicarakan benar tidaknya perkataan ini:
Pertama,
Tidak ada ketetapan hadits yang dapat diterima sanadnya dari Nabi sallallahu’alaihi wa sallam akan duduknya Nabi sallallahu’alaihi wa sallam di atas Arsy. Dan kaidahnya yang dijadikan patokan Ahlus sunnah wal jama’ah adalah apa yang didiamkan oleh Nabi sallallahu’alaihi wa sallam berupa khabar gaib, maka tetap dibiarkan pada sisi gaibnya, tidak diperkenankan membahasnya dengan cara pasti dan penuh keyakinan.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, ‘Hadits duduknya Rasulullah sallallahu’alihi wa sallam di atas Arsy, diriwayatkan oleh sebagian orang dari banyak jalan secara marfu’ (sampai ke Nabi), dan kesemuanya itu palsu (maudhu)." (Dar’u Ta’arud Al-Aql Wan Naql, 3/19)
Ad-Dzahabi rahimahullah berkata, ‘Masalah duduknya Nabi sallallahu’alaihi wa sallam di atas Arsy, tidak ada nash yang kuat (tsabit). Bahkan dalam bab ini ada hadits lemah." ( Al-Uluw, 2/1081, no 422)
Kedua,
Penafsiran Al-Qur’anul-Karim dengan apa yang ada dalam sunnah  yang shahih, lebih utama untuk diikuti daripada mengambil penafsiran salah seorang tabiin –meskipun dengan keilmuan setaraf Mujahid rahimahullah- khususnya kalau kita mengetahui telah diriwayatkan dari Mujahid sendiri bahwa beliau telah menafsiri ayat yang sesuai dengan hadits dan atar shoheh seperti yang akan dikutip berikut ini, 
فعَنْ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ( يُبْعَثُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَأَكُونُ أَنَا وَأُمَّتِي عَلَى تَلٍّ ، وَيَكْسُونِي رَبِّي تَبَارَكَ وَتَعَالَى حُلَّةً خَضْرَاءَ ، ثُمَّ يُؤْذَنُ لِي ، فَأَقُولُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ أَقُولَ ، فَذَاكَ الْمَقَامُ الْمَحْمُودُ  (رواه أحمد في المسند  (25/60) طبعة مؤسسة الرسالة)
 “Dari Ka’b bin Malik radhillahu’anhu sesungguhnya Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam bersabda, "Manusia dibangkitkan pada hari kiamat. Maka aku dan umatku di atas bukit, dan Tuhanku Tabaroka Wata’ala memakaikanku mahkota hijau. Kemudian aku diberi izin. Maka saya mengatakan apa saja yang yang saya katakan. Itu adalah maqam mahmud (tempat yang terpuji)." HR. Ahmad di Musnad, 25/60. Cetakan Muassasah Ar-Risalah)
Peneliti cetakaan ini mengatakan, ‘Sanadnya shahih sesuai persyaratan Muslim, para perawinya terpercaya yaitu para perawi Bukhori Muslim kecuali Yazin bin Abdu Rabbi –beliau adalah Az-Zubaidi Al-Himsy- dari rawi Muslim. Abdurrahman bin Abdullah bin Ka’ab bin Malik, diperselisihkan mendengarkannya dari kakeknya. Yang kuat adalah beliau mendengarkan darinya.’
Diantara atsar shahih mauquf (sampai ke shahabat) adalah perkataan Ibnu Umar radhiallahu’anhuma,
إِنَّ النَّاسَ يَصِيرُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ جُثًا ، كُلُّ أُمَّةٍ تَتْبَعُ نَبِيَّهَا ، يَقُولُونَ يَا فُلاَنُ اشْفَعْ ، حَتَّى تَنْتَهِي الشَّفَاعَةُ إِلَى النَّبِي صلى الله عليه وسلم ، فَذَلِكَ يَوْمَ يَبْعَثُهُ اللَّهُ الْمَقَامَ الْمَحْمُودَ (رواه البخاري، رقم 4718)
“Sesungguhnya manusia berjalan  merangkak pada hari kiamat. Setiap umat mengikuti nabinya. Mereka mengatakan, ‘Wahai si fulan berikanlah syafaat. Sampai syafaat selesai di Nabi sallallahu’alaihi wa sallam. Itu adalah hari dimana Allah membangkitkannya pada Maqam mahmud (tempat terpuji).’ (HR. Bukhari, 4718. Dan beliau membuat bab dengan menulis ‘Semoga Tuhanmu membangkitkanmu di tempat terpuji’ pilihan beliau dari penafsiran dari sisi ini.
Dan penafsiran ayat dengan maqam syafaat udzma adalah diringkas oleh Al-Hafidz Ibnu Katsir dalam ‘Tafsir Al-Qur’an Al-Adzim, 5/103. Beliau menyebutkan banyak orang dari kalangan shabat dan tabiin. Ibnu Jarir berkomentar di dalamnya, ‘Bahwa ini adalah pendapat kebanyakan ahli tafsir.’ Ini adalah pendapat yang utama dalam menafsirkan ayat ini.
Ketiga,
Diceritakan dari sebagian ulama bahwa jika perkataan Mujahid ada ada yang mengingkarinya, tidak berarti mereka berpendapat seperti itu. Hal itu dianggap sebagai mempermudah terhadap riwayat tentang keutamaan-keutamaan (fadha'il).
Diceritakan Abu Muhammad bin Basyar dari Abdullah bin Ahmad dari ayahnya, ‘Bahwa biasanya diperlihatkan kepadanya hadits, dan mengatakan ini diriwayatkan ini dan ini seorang (rowi) disebutkan. Kalau diperlihatkan hadits lemah. Beliau mengatakan kepadanya, buanglah. Kemudian diperlihatkan kepadanya hadits Mujahid dan dilemahkan. Dia berkata, ‘Wahai ayah, apa saya buang? Beliau menjawab, ‘Jangan. Hadits ini ada keutamaan. Maka pahalanya akan mengalir jangan engkau buang.’
Dinukil di kitab ‘Ibthal At-Ta’wilat, hal. 489.
Penukilan ini menunjukkan sebab dikenalnya atsar Mujahid, yaitu karena didiamkan sebagian imam hadits seperti Imam Ahmad dari atsar ini. Maka sebagian ulama menyangka bahwa sikap mereka itu berarti  menerima isinya dan meyakini kandungannya. Sehingga ada yang mengatakan bahwa ia  termasuk atsar yang diterima. Padahal kenyataannya bukan begitu. Kebanyakan ulama dengan jelas mengatakan bahwa apa yang dikatakan oleh Mujahid tidak benar.
Ibnu Abdul Bar rahimahullah berkata, "Dengan demikian, maka para ulama tafsir menafsirkan firman Allah,   ( عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَاماً مَحْمُوداً ) adalah syafaat." Sedangkan Mujahid  meriwayatkan bahwa 'Maqam Mahmud' adalah mendudukkan beliau bersama-Nya di Arsy pada hari kiamat. Pendapat ini diingkari para ulama dalam penafsiran ayat ini. Yang menjadi pandangan  para ulama dari kalangan shahabat, tabiin, dan generasi kholaf setelahnya bahwa 'Maqam Mahmud' adalah maqam (kedudukan) karena beliau memberikan syafaat kepada umatnya."
Terdapat pula riwayat dari Mujahid seperti pendapat kelompok para ulama seperti itu. maka dengan demikian, masalah ini telah  menjadi ijma (konsensus) tentang penafsiran ayat dari para ulama yang berpedoman pada Al-Quran dan sunnah.
Disebutkan dari Ibnu Abi Syaibah dari Syababah dari Warqa’ dari Ibnu Abi Najih dari Mujahid terkait dengan firman Allah Ta’ala, ( عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَاماً مَحْمُوداً ), dia berkata, ‘Yang dimaksuda adalah Syafaat Muhammad sallallahu’alaihi wa sallalm.’ (At-Tamhid, 19/63-64).
Imam Ad-Dzahabi rahimahullah berkata, ‘Di antara yang paling diigkari dari riwayat Mujahid adalah penafsirannya terhadap firman-Nya, ( عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَاماً مَحْمُوداً ) , dia berkata, ‘Mendudukkan beliau bersama-Nya di Arsy.’ (Mizanul Al-I’tidal, 3/439)
Beliau rahimahullah menambahkan, ‘Apa yang ditafsirkan oleh Mujahid dari ayat yang telah kami sebutkan, sebagian ahli kalam mengingkarinya.'  Al-Marwadzi pada awalnya berusaha sekuat tenaga untuk membela pandangan ini, bahkan mengumpulkannya dalam satu kitab. Lalu dia telusuri riwayat Mujahid dari jalur Laits bin Abi Sulaim dan ‘Atho’ bin As-Saib dan Abi Yahya Al-Qottat dan Jabir bin Yazid. Maka akhirnya beliau terbuka (wawasannya) –semoga Allah menjaga anda dari hawa nafsu- bagaimana seorang ahli hadits dapat berlebih-lebihan dengan mengambil atsar yang munkar.’ (Al-Uluw, 2/1081-1090. No/422-426)
Syekh Al-Albany rahimahullah berkata, ‘Di antara yang menunjukkan akan hal itu adalah terdapat dalam hadits-hadits shahih bahwa maqam mahmud adalah syafaat secara umum yang dikhususkan untuk Nabi kita sallallahu’alaihi wa sallam. Yang mengherankan dan mencengangkan akal, sebagian ulama mutaqaddimin (masa lalu) ada yang memberi fatwa dengan atsar Mujahid ini sebagaimana yang disebutkan oleh Ad-Dzahabi bukan hanya dari satu orang saja. Bahkan sebagian ahli hadits berlebihan dengan mengatakan, ‘Kalau sekiranya ada seseorang bersumpah dengan sumpah cerai tiga bahwa Allah mendudukkan Muhammad sallallahu’alaihi wa sallam di Arsy, dan dia meminta fatwa dariku, maka akan saya katakan, ‘Engkau benar dan tepat!.
Sikap berlebih-lebihan seperti ini menjadikan orang yang meniadakan sifat (Allah) akan terus menerus dalam sikapnya dengan meniadakan (sifat). Dan mencela ahlus sunnah yang menetapkan (sifat-Nya), serta menfitnah dengan menyerupakan (tasybih) dan menfisualisasikan (tajsim). Agama yang benar adalah berada di antara berlebih-lebihan dan terlalu menggampangkan. Semoga Allah merohmati seseorang yang beriman dengan apa yang benar dari Nabi sallallahu’alaihi wa sallam dalam masalah sifat atau lainnya yang layak dan hakekat untuk Allah Ta’ala. Tidak diterima hal itu yang tidak benar dari Beliau sallallahu’alaihi wa sallam seperti hadits ini (yakni hadits ‘Dan saya didudukan di atas Arsy). Apalagi atsar seperti ini.’ (Sil-Silsilah Ad-Dhoifah, 865)
Syekh Al-Albany rahimahullah juga melanjutkan, ‘Periwayatan hadits lemah dari sebagian ahli hadits termasuk sesuatu yang dicela dari orang-orang yang tidak setuju dengannya. Meskipun mereka melakukan yang lebih jelek dari itu sebagaimana yang dijelaskan ole Syeikhul Islam.
Diantara yang dikenal orang yang diambil darinya pada masa sekarang dan menjadikan alasan dalam penyelewengannya adalah Syekh Al-Kautsari yang dikenal permusuhan keras dengan ahlus sunnah dan hadits. Memberikan julukan kepada mereka dengan julukan ‘Al-Hasyawiyah dan Al-Mujassamah (menfisualisasikan)’ maka dia dengan itu berbuat zalim dan kebohongan kepada mereka.
Akan tetapi –kebenaran dikatakan- terkadang apa yang diriwayatkan oleh sebagian mereka didapatkan hadits dan atsar yang menguatkan atas kebohongannya. Seperti hadits yang diriwayatkan tentang penafsiran firman Allah, ( عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَاماً مَحْمُوداً ) berkata, ‘Saya didudukkan di Arsy. Yang benar dalam penafsiran maqam mahmud tidak ragu lagi adalah syafaat. Dan hal ini yang dishahihkan oleh Imam Ibnu Jarir di tafsirnya, kemudian Qurtuby. Dan ini yang tidak disebutkan oleh Al-Hafidz Ibnu Katsir selainnya dan menyebutkan hadits yang tadi disebutkan.
Bahkan riwatyat Mujahid sendiri terdapat dua riwayat dalam riwayat Ibnu Jarir. Sementara atsar tadi tidak ada yang dapat dianggap. –Ad-Dzahabi – telah menyebutkan bahwa beliau meriwayatkan dari Laits bin Abu Sulaim dan Atho’ bin As-Saib, dan Abu Yahya Al-Qattat, Jabirbin Yazid. Dua orang pertama (hafalannya) campur baur sementara dua orang terakhir adalah lemah. Bahkan yang terakhir itu ditinggalkan (matruk) disangsikan (muttaham). Ringkasan pembahasan, bahwa perkataan Mujahid ini –meskipun sah dari beliau- tidak diperkenankan dijadikan keyakinan agama dan akidah selagi tidak ada yang menguatkan  dari Kitab dan Sunnah.’ (Mukhtasor Al-Uluw, hal. 14-20).
Dari sini telah jelas, bahwa penafsiran yang benar tentang 'Maqam mahmud' adalah maqam syafaat. Bukan seperti yang ada dalam atsar dari Mujahid rahimahullah.
Wallahu’alam .